Silakan untuk berbagi :)

Gimana isi blog ini ?

Senin, 03 Mei 2010

Analisis Peran Media Sosial dalam Penyebaran Informasi dan Aktivitas Jurnalisme


Di abad 20 ini, kehadiran berbagai situs media sosial terus meluas ke seluruh penjuru dunia dan sudah bisa dinikmati  oleh seluruh lapisan masyarakat. Keberadaan media sosial tersebut (contoh: Facebook, Twitter, Youtube, Formspring) adalah salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan dalam berkomunikasi. Kini, kebutuhan tersebut semakin mudah dipenuhi karena mau tak mau harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi, jenis aktivitas dan kebutuhan hidup lainnya.
Bagi para jurnalis yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai penyebar informasi dari dan ke masyarakat, tentu saja media sosial adalah pasangan yang cocok bagi mereka karena memiliki fungsi yang hampir sama. Melalui situs-situs media sosial, seorang jurnalis bisa mendapatkan berbagai keuntungan dalam kegiatan jurnalistiknya, namun sekaligus akan mendapatkan kerugian apabila tidak bisa memanfatkannya dengan baik.
Akun Media Sosial Sebuah Media Massa Tradisional
Saat ini, semakin menjamur akun-akun media massa tradisional yang menjelajah masuk ke media sosial. Media ini membuat akun profesional dengan maksud bisa menyajikan berita-berita yang telah dihimpun dan ditulis oleh jurnalis mereka dalam tempo yang secepat-cepatnya atau real time .
           Beberapa media massa tradisional yang sudah memanfaatkan fasilitas media sosial , contohnya : Media Indonesia, Kompas, Reuters, dan The Associated Press.
Penggunaan Situs Media Sosial dalam Penyusunan Karya Jurnalistik
Situs media sosial bisa dikatakan sebagai alat instan yang memungkinkan para jurnalis lebih cepat dalam mencari sumber atau narasumber untuk beritanya. Ia tidak perlu menelepon ke sana ke mari untuk mencari sumber berita yang bisa dipercaya dan kredibel. Melalui situs media sosial, jurnalis bisa mencari tahu segala peristiwa atau fenomena yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Penggunaan media sosial dalam jurnalisme tumbuh seiring berkembangnya jurnalisme warga (citizen journalism) dalam media online atau jaringan internet. Kecanggihan dalam akses pencarian berita ini, mau tak mau menuntut jurnalis agar semakin cepat dalam menghimpun berita. Jurnalisme dalam jaringan online telah membuat segala informasi menjadi lebih cepat menyebar dan diterima masyarakat. Oleh karena itu, kini seorang jurnalis di berbagai media sudah diwajibkan untuk tidak mengandalkan media utama sebagai alat penyebar berita. Ia diharuskan untuk bisa menjelajah media-media sosial agar bisa menjalin hubungan baik dengan berbagai macam status sosial masyarakat sehingga bisa mendapatkan berita yang banyak, bervariasi, dan detail.
Contoh:
 Seorang jurnalis bisa mengikuti perkembangan perang atau kerusuhan di suatu wilayah dengan mengikuti status Twitter atau Facebook seorang tokoh masyarakat termasuk jurnalis dari media lokal. Melalui status update di jaringan sosial tersebut, jurnalis dapat terus mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi lengkap dengan opini atau reaksi publik.
Jika ia menemukan berita langsung dari lokasi peristiwa, ia bisa segera mengunggah foto atau video peristiwa. Hal ini biasanya didukung oleh penggunaan teknologi telepon seluler yang kompatibel.
Penggunaan media sosial oleh jurnalis mendapatkan berbagai dukungan dan respon positif, baik dari pimpinan media maupun masyarakat. Media sosial ini bisa bisa dijadikan sebagai tempat wawancara (misalnya melalui Formspring, dimana pertanyaan akan muncul di inbox tujuan dan lebih tertutup daripada Twitter), berbagi foto yang tidak bisa dimuat di media, serta memberikan opini-opini pribadi jurnalis terhadap suatu berita.
Seorang jurnalis tidak bisa memuat berita yang tidak sesuai dengan ideologi media, meskipun dalam teorinya jurnalis diberikan kebebasan untuk mengikuti hati sanubari mereka dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, mungkin sebagai pembebasan diri, seorang jurnalis bisa membuat sebuah blog yang berisi catatan opini pribadinya. Jika ia ingin menggunakan akun Twitter atau Facebook sebagai media pribadinya, tentu ia harus berhati-hati dalam mengungkapkan opininya. Bisa saja opininya tersebut ditanggapi oleh dengan berbagai hal oleh pengguna atau user lainnya dalam media sosial yang bersangkutan. Kini, segala informasi yang dibuat oleh seseorang dalam suatu media sosial bisa mudah diketahui oleh orang lain dan bisa mudah pula untuk dikomentari macam-macam. Hal ini terkecuali bila pemilik informasi itu sudah membuat privacy setting dalam media sosialnya. Oleh karena itu, dirinya harus benar-benar hati-hati dalam menyampaikan informasi atau memberikan opini kepada khalayak dalam media sosial yang dimilikinya.
Industri dan Aktivitas Jurnalisme di 10 Tahun yang Akan Datang
            Jurnalisme dalam konteks aktivitasnya di komunikasi massa, akan terus berkembang seiring munculnya teknologi komunikasi yang canggih. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai hasrat untuk terus mendapatkan informasi dari media massa akan semakin mudah memenuhi hasratnya karena adanya perkembangan teknologi dan perubahan industri jurnalisme.
            Pada awal kemunculannya, aktivitas jurnalisme dilakukan dengan sangat tradisional, cenderung mahal dan tidak praktis. Hal ini disebabkan oleh peralatan dan bahan yang digunakan untuk membuat suatu media massa cenderung mahal.
            Tetapi hal itu tidak berlaku di abad 20 ini. Informasi menyebar dengan cepat  bahkan kilat. Kini, aktivitas jurnalisme dan industri media harus semakin bekerja keras dalam mengimbangi waktu yang terus berjalan dengan cepat.
          Kita sudah bisa melihat hal tersebut dari munculnya web dan situs internet yang memperlihatkan adanya aktivitas jurnalisme sebagai penyebar informasi. Mungkin saja, aktivitas tersebut bukanlah suatu komunikasi massa, tetapi fungsinya dalam penyampaian informasi dengan khalayak yang tidak bisa ditebak dan tersebar dan membuat hal ini menjadi mirip dengan komunikasi massa.
Jurnalisme dalam jaringan, begitu ia sering disebut, memang tengah merebak dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas ini kemudian mengembangkan suatu aktivitas baru yaitu hadirnya jurnalisme warga. Jurnalisme warga di  media sosial, seperti yang telah kita ketahui, membawa kita pada komunikasi massa yang lebih sirkuler, tidak linier seperti proses jurnalisme di media massa professional.
Jurnalisme warga yang saat ini berkembang melalui media sosial maupun situs web media massa professional memang secara tidak sengaja akan terus membiaskan aktivitas jurnalisme professional. Perkembangan ini memang telah membuat setiap manusia memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas jurnalisme, yaitu menghimpun dan menyebar informasi.
Atas tuntutan perkembangan tersebut, maka hampir semua media professional kini memiliki situs atau akun untuk berita mereka di dunia maya. Mereka tidak lagi terpatok dengan penyebaran berita dengan media konvensional (koran, tv, atau radio). Situs-situs media sosial dalam jaringan telah memudahkan mereka dalam aktivitas jurnalisme sehari-hari.
Jurnalis saat ini memang tidak hanya dituntut untuk sekadar tahu dunia jurnalisme tetapi juga mengusai teknologi yang akan sangat membantu mereka dalam kegiatan jurnalisme. Jurnalis minimal memiliki satu situs atau akun di media sosial (contohnya : Facebook, Twitter, Youtube, blog, Formspring, dan sebagainya) sebagai alat utama dan penunjang kerjanya sebagai jurnalis.
Jurnalisme Warga vs Jurnalisme Profesional
Dengan adanya situs-situs media sosial yang dipakai juga untuk aktivitas jurnalisme maka tidak bisa kita pungkiri jika sepuluh tahun yang akan datang, jurnalisme professional semakin kalah dan tergusur oleh hadirnya jurnalisme warga. Jurnalisme professional di media massa konvensional mau tidak mau harus bisa bersaing dengan jurnalisme yang datang dari warga tanpa perlu menjadi jurnalis.
Dalam jurnalisme warga, hampir setiap orang bisa bekerja sepert jurnalis atau wartawan media massa. Setiap orang dalam media sosial dapat melaporkan sebuah peristiwa atau informasi di halaman media sosialnya. Jika ia memiliki sebuah opini , ia pun dapat segera menyampaikannya di bawah berita terkait. Diskusi pun tidak bisa dielakkan dalam model jurnalisme warga ini.
Dalam era jurnalisme warga yang terus berjalan dan berkembang di sepuluh tahun yang akan datang, orang-orang menjadi semakin sadar dan kritis terhadap pesan-pesan media. Sepertinya, teori jarum hipodermik akan sangat kalah dan terlupakan. Melalui media-media massa yang terbuka dan dua arah (jurnalisme warga), orang-orang menjadi gemar berdiskusi kemudian membentuk komunitas-komunitas tanggap media.
Hal ini adalah hal yang menarik meskipun sedikit membuat jurnalis media massa professional menjadi harus bersaing ekstra keras. Kerja mereka saat ini bukan dihargai dengan jumlah surat kabar yang habis terjual tetapi lebih dengan tanggapan atau opini masyarakat tentang berita yang mereka buat. Ini adalah konsekuensi dari semakin malasnya konsumen media dalam berlangganan media massa profesional karena selain mahal juga tidak praktis.
Oleh karena itu, jurnalisme dalam jaringan yang memuat jurnalisme warga akan lebih dinikmati daripada jurnalisme profesional. Industri media pun akan beralih menjadi serba digital.


Disusun Oleh :
Rezki Apriliya Iskandar 210110080041
Putri Adityowati 210110080043


2 komentar:

Anonim mengatakan...

peran jurnalisme sebagai daya tarik berita. beberapa topik mengandung daya tarik berita yang kontekstual.
uang, perjuangan, pahwalan, suspence, human interest, kejadian dengan ruang lingkup kecil hingga ruang lingkup besar, penemuan baru yang tidak terduga, hal yang biasa hingga tercipta menjadi tidak biasa. the great of human interest for activity :)

Cabaca Buku mengatakan...

Terima kasih atas komentarnya.

Memang tak dipungkiri juga, peran tersebut membuat tanggung jawab para jurnalis semakin berat sebagai penyambung lidah rakyat.

Para jurnalis, baik citizen journalism atau jurnalis profesional, harus bisa menjalankan profesinya sesuai kode etik yg ada.
Tidak sembarangan atau sesuka hatinya.

-Rezki